Monday, 24 August 2009

Upacara

Senin, 17 Agustus 2009

Yap! Tahun ini Republik Indonesia ngerayain hari kemerdekaan yang ke-64!
Seperti biasa, kita ikut upacara, baik di sekolah atau beberapa tempat penting.
Oya, saya mau mengemukakan pendapat saya mengenai upacara, pelajar, dan kemerdekaan kita kini.

Nggak usah ditanya lagi, kalo udah tanggal 17 Agustus berarti waktunya kita upacara. Upacara pada tanggal itu merupakan upacara yang bisa dibilang heboh. Kenapa? Biasanya petugas upacara yang dikerahkan istimewa *seperti sekolah saya*, belum lagi durasinya yang melebihi durasi upacara biasa. Pembinanyapun juga nggak kalah luar biasa.

Sekolah-sekolah tertentu ada yang menyuruh siswa-siswanya untuk mengikuti uacara bendera di sekolah atau di suatu tempat yang telah ditunjuk sebelumnya. Kita para pelajar nggak usah munak deh, sebagian besar pasti bakalan bilang, "Lapo?","Ngapain?" dan sebagainya. Mereka rata-rata pada males buat ikut upacara. Bahkan ada juga yang bilang, "Enak di rumah bisa tidur, daripada ikut upacara malah dijemur." So what?

Tragis memang. Kenapa semakin bertambahnya usia semakin kurang rasa nasionalismenya terhadap Tanah Air Indonesia kita. Upacara memang bukan satu-satunya tolak ukur, tapi setidaknya kita menghormati dan menghargai apa-apa yang telah diraih selama ini, yang patut kita banggakan *bukan korupsi dan sebagainya*.

Nggak usah bohong, sebagian besar dari yang dateng upacara kebanyakan takut bakalan dihukum *semisal ngaruh ke nilai* atau takut ikut upacara susulan. Hal semacam ini cukup ampuh untuk membut para siswa dateng dan ngikutin upacara sampai selesai. Tapi nanti dibelakangnya mereka bakal bilang, "Healaa gini aja? Tau gitu aku nggak dateng." dan berbagai macam pernyataan kekecewaan mereka.

Saya tidak sependapat. Menurut saya, hadir dalam sebuah upacara hari besar, apalagi hari peringatan kemerdekaan, adalah suatu simbol bahwa kita cinta negeri kita. Nggak semua orang punya pemikiran yang seperti itu. Mereka kebanyakan bakal bilang kalo itu buang-buang waktu. Eh, kata siapa?

Tanpa upacara tersebut, kita nggak bakalan tahu apa-apa aja kemajuan yang telah kita raih *hal ini merupakan salah satu isi pidato*. Tanpa upacara kita mungkin sudah tidak ingat lagi dengan lagu-lagu wajib *karena katanya itu nggak keren*.

Ada sebuah kutipan, "Negara yang besar adalah negara yang menghargai jasa-jasa pahlawannya.". Seperti apa sih bentuk dari "menghargai jasa pahlawan" itu?
Banyak sekali. Nggak cuma ikut upacara.

Ada lagi hal yang saya keluhkan. Peserta upacara yang terdiri dari pelajar sebagian besar tidak mengikuti jalannya upacara dengan khidmat. Mereka pada sibuk dengan obrolan sembari kipas-kipas karena sengatan matahari secara langsung.

Aduh, kok bisa sih mereka seperti itu?
Kalo 64 tahun yang lalu kita nggak merdeka, kita bakalan tetep hidup susah. Nggak bakalan bisa sebebas sekarang.
Apa mereka nggak merenungi hal ini?
Saya pun baru tersadar akan hal ini ketika saya beranjak menjadi pelajar SMA.Terlambat sih, tapi itu kan lebih baik daripada tidak sama sekali.

Kemudian pada sesi mengheningkan cipta. Pada bagian ini pasukan paduan suara menyanyikan lagu "Mengheningkan Cipta" sambil menundukkan kepala. Sebelumnya pembina upacara bakal berpesan, "Marilah kita menundukkan kepala sejenak untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului kita.". Nggak semua orang tau arti dari kata-kata tersebut.
Bahkan ada juga yang cuek bebek meskipun lagu sudah mulai dilantunkan. Kok bisa-bisanya sih?

Amanat pembina upacara. Bagian ini adalah bagian yang paling dikeluhkan oleh para siswa. Mereka terlalu malas untuk mendengarkan pidato yang terlalu lama. Capeklah, panaslah dan berbagai macam alasan lain yang mereka lontarkan.
Ketika pidato berjalan sekitar 5 menit dan belum berhenti, satu per satu peserta mulai membuka obrolan sendiri-sendiri.
Kasian pembinanya dong, nggak ada yang merhatiin?

Sakit hati? Siapa tahu. Anda merasa tidak senang 'kan kalo omongan anda tidak didengarkan apalagi kalo udah ditinggal ngobrol sendiri.? Mungkin pembina upacara bakal punya perasaan nggak suka. Beliau lebih lama berdiri daripada peserta, ditambah lagi beliau harus berpidato. Lebih capek kan?

Pada bagian doa peserta upacara mulai sumringah, senyum, bahkan ada yang sampai ketawa-ketawa. Mereka senang karena itu tandanya upacara akan segera berakhir, segera selesai. Karena sudah banyak yang beranggapan begitu, nggak sedikit peserta yang nggak merhatiin. Coba deh dengerin secara seksama, doa-doanya nggak kalah bagus sama doanya pak ustadz, kita juga ngerti maksudnya karena disampaikan dengan bahasa kita bukan bahasa Arab.


Sangat disayangkan kalo pelajar zaman sekarang menyepelekan hal yang bernama upacara. Semakin globalnya dunia, pengaruh luar yang masuk ke Indonesia juga banyak. Kalo kita nggak bisa ngendaliin, hilang sudah ke-Indonesia-an kita itu. Salah satu pengontrolnya adalah dengan mengikuti upacara bendera.
Banggalah kita dengan negeri tercinta. Lantunkan lagu kebangsaan dengan lantang.

MERDEKA!
64 tahun kemerdekaan Ibu Pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia-ku (:

No comments:

Post a Comment