Friday, 5 June 2009

Kami, Putra Bangsa Tanah Air Tercinta

Semua yang ia bawa sekolah tergeletak diatas meja begitu saja. Ia bangkit dari kursi kayunya berjalan menuju meja guru yang letaknya ada di pojok ruangan bersebrangan dengan pintu berkusen kayu jati. Sang guru tak banyak berkata. Ia duduk kembali. Tangannya terlipat di depan dada. Bibirnya tak tampak bahagia.

"Ah, ada-ada saja. Aku tak mungkin bisa.", gumamnya samar saat ia merapikan roknya untuk duduk di kursi. Setelah merapikan peralatan menggambar yang sempat tercecer ia mengambil sebuah buku tulis usang dengan sampul merah muda. Pensil yang hanya secuil digunakannya menulis. Berusaha ia agar tulisan indah tercetak ditiap baris dari lemabaran buku yang menguning itu.

Pak guru berdiri. Memerintahkan beberapa siswa yang berdiri untuk segera duduk ditempatnya masing-masing. Beliau memperbaiki letak kacamatanya yang agak turun. Kemeja lusuh dengan warna abu-abu terlihat kebesaran ukuran. Tak menjadi persoalan baginya karena toh ia menjalankan kewajiban sebagai bentuk pengabdian kepada negara.

"Kalian tak perlu merasa rendah tak berarti. Untuk apa kalian sekolah jika hanya merasa malu, merasa bodoh dan menyerah. Tak mau maju. Kalian adalah tunas bangsa dari bumi pertiwi.". Semakin pak guru berucap, semakin lantang suaranya. Tergaris di wajahnya rasa nasionalisme yang tinggi, yang penuh emosi. Semua siswa tak berkutik. Mematung. Membatu. "Merekalah yang tinggal di atas tanah kita. Merekalah yang menumpang hidup pada kita. Buat apa kita malu atas mereka? Apakah kita dibayar untuk itu? TIDAK!"

Beliau diam sejenak. Matanya mengelilingi seisi ruang kelas. Mengambil napas, mengatur kata-kata.

"Angkatlah kepala kalian. Banggalah dengan apa yang telah kalian punya. Tanah ini milik kita. Negara ini milik kita. Bukan milik mereka, para pendatang yang seenaknya mengaku pintar. Ah!"

"Lalu? Kami tak punya uang. Tak seperti mereka yang selalu tampil mewah.", seorang bocah berseragam putih-abu-abu berdiri. Mengeluarkan pendapat. Rambutnya acak-acakan.

"Oh! Apalah arti uang? Kita ini orang pribumi. Orang timur yang menjunjung tinggi adat sopan santun tata krama. Buat apa uang jika kau tak pernah sopan? Buat apa uang jika kau tak pernah menjaga omonganmu. Bukan seperti mereka yang sombong."

Ada beberapa yang mengangguk. Ada yang tetap diam menatap bapak guru yang berdiri di depan papan tulis kapur. Tetesan keringat di atas ubin. Panas dan tegang. Setiap ucapan bapak guru seakan membakar semangat para pemuda-pemuda di pinggiran kota ini. Desa lebih tepatnya.

Aku hanya diam. Tetap diam. Duduk di dekat pintu kelas. Angin siang itu tak seberapa sejuk. Tapi biarlah. Aku sedang berkonsentrasi penuh dengan apa yang dikatakan pak guru.

"Bangkitkan semangat kalian. Ubahlah pemikiran kalian. Kita adalah putra bangsa. Terlahir di tanah Ibu Pertiwi. Sampai akhir hayat jangan kalian menyerah. Abdikan diri pada negara. Tak lupa berdoa beramal. Buktikan bahwa kita bisa. Buktikan kita tak sebodoh apa yang mereka pikirkan. Bangun kemerdekaan Indonesia dengan ilmu dan aturan. Jangan sekali kau mencoreng wajahnya dengan tindakan terlarang. Jangan kau robek benderanya dengan tanganmu yang tak diridhoi Tuhan. MERDEKA!"

"MERDEKA!", segenap seisi kelas berdiri sambil mengepalkan tangan berteriak lantang. Mengalirlah air mata pak guru. Membuat ubin menjadi basah, lebih basah. Tak sedikit dari kami yang hanya berdiri. Ada yang menangis walau tak histeris.
Lonceng berbunyi. Membuat kelas diam kembali. Semua tak bergerak. Bapak guru mengucap salam, melangkah meninggalkan kelas. Kami masih terbakar semangat cinta tanah air. Tanah Air Indonesia.

Aku keluar kelas. Menuju tiang bendera didepan gedung sekolah kami yang tak berbentuk. Menatap Merah Putih dan memberi penghormatan. Beberapa teman kami mengikuti. Meneriakkan semangat mereka masing-masing. Ya, kamu putra bangsa. Generasi penerus. Tunjukkan bahwa kita bisa. Bukan mereka.

1 comment: