Tuesday, 26 May 2009

Perpisahan Kelas

Mungkin bagi beberapa orang, saya merupakan orang yang egois, individualis. Yah, memang sih. Saya tidak terlalu suka dengan diskusi.

Kelas X6 atau SENAM PAGI berencana akan membuat sebuah perpisahan di akhir semester nanti. Kebanyakan dari mereka menginginkan untuk menginap di sebuah villa sewaan di daerag Malang, Jawa Timur. Okelah. Kami semua membentuk panitia untuk tur tersebut. Sebenarnya sudah dari bulan April, tetapi tak sepenuhnya jalan.

Kendala pertama adalah beberapa dari mereka tidak setuju untuk menjadi panitia ataupun sebaliknya. Ada salah seorang yang teman yang bertanya pada saya mengapa dia dimasukkan Sie Keamanan.Ya saya jawab saja, karena dia orangnya disiplin, setidaknya bisa mengamankan anak-anak yang berniat melakukan kegiatan anarkis.

Setelah itu yang menjadi perdebatan adalah masalah berapa lami kami akan menginap disana. 3 hari 2 malam kah atau cukup 2 hari semalam. Saya tidak suka kalau terlalu lama menginap disana. Untuk apa? Kalau hanya sekedar tidur kan tidak perlu mahal-mahal sewa villa.
Yah, ada yang bilang untuk mengakrabkan diri. Nah terus, selama kurang lebih kami 10 bulan belajar bersama apa bukan termasuk dalam program pengakraban? Aduh, aneh-aneh saja. Ada pula yang minta acara api unggun. Seperti kemah saja. Ckckck.

Masalah transportasi. Sesuai data yang saya dapatkan langsung dari setiap perusahaan, rata-rata harga untuk menyewa bus AC per harinya adalah 1,5 juta rupiah. Wahwah. Bisa dibayangkan kalau kami pergi selama 2 hari. 3 juta habis sudah hanya untuk menyewa bus. Biaya jadi bengkak nih. Beberapa teman pun menyarankan untuk menggunakan kereta dari Surabaya hingga ke Malang, dan sesampainya di stasiun kami segera menyewa angkutan umum untuk mengantar kami ke tempat wisata dan ke villa. Yah, dihitung-hitung hemat juga. Dengan cara yang kedua kami 'hanya' perlu merogoh kocek sekitar 2 juta rupiah saja. Dan seperti biasa, setelah saya menjelaskan sarana transportasi di depan kelas, mereka langsung menyerbu saya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Ada yang menanyakan keamanan hingga kenyamanan. Menurut saya, perjalanan menggunakan kereta juga tak kalah seru. Apalagi dengan teman sati kelas, lelah pun juga tak terlalu terasa.

Sesampainya di rumah, pesan singkat juga membanjiri telepon selular saya. Salah satu teman saya tidak diizinkan oleh orang tuanya ikut pergi jika transportnya tetap menggunakan kereta. Sungguh, seketika itu saya berpikir bahya saya benar-benar egois. Tidak memikirkan orang lain. Tapi di sisi lain, saya juga berpikir, mengapa sih orang tuanya tidak mau memberi izin kepada anak-anaknya, mereka kan sudah berada di bangku SMA atau Sekolah Menengah Atas, dimana setidaknya mereka sudah mengerti bagaiman menjaga diri.

Benar-benar saya tak habis pikir. Saya pun sempat mengeluarkan uneg-uneg saya kepada ibu. Saya bertanya mengapa para orang tua tersebut tidak seperti beliau, yang mengizikan saya berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Beliau menjawb dengan bijak tetapi tetap saja jawaban itu tidak pas bagi saya. Akhirnya untuk menghindari adanya pemboikotan, panitia inti akhirnya setuju untuk menyewa bus. Tapi hingga kini, kami belum menemukan mana yang cocok.

Dari kejadian, hambatan, dan kendala tersebut saya jadi belajar bagaimana caranya mengambil sebuah keputusan yang baik. Tetapi tetap saja saya merasa kurang.

Saya juga merasakan perbedaan sudut pandang yang saya alami. Bagaiman anak-anak yang bukan dari sekolah favorit mengemukakan pendapatnya. Saya akui, selama saya ada di bangku SMA saya jadi lebih sering badmood. Berbeda ketika saya masih berada di SMP, hari-hari saya lebih menyenangkan, penuh canda tawa.

2 comments:

  1. iya sama (lagi), ngapain ya lama lama kan males kelasku juga pada minta 3 hari 2 malem gitu

    ReplyDelete